Nurminingsih. Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

RSS
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

PELATIHAN STATISTIKA MULTIVARIAT

Add caption














  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menentukan Populasi dan Sample



MENENTUKAN POPULASI DAN SAMPLE
Nurminingsih, S.Sos, M.Si

A. Definisi
Populasi adalah wilayah generalisasi berupa subjek atau objek yang diteliti untuk dipelajari dan diambil kesimpulan. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti.
Dengan kata lain, sampel merupakan sebagian atau bertindak sebagai perwakilan dari populasi sehingga hasil penelitian yang berhasil diperoleh dari sampel dapat digeneralisasikan pada populasi.
Penarikan sampel diperlukan jika populasi yang diambil sangat besar, dan peneliti memiliki keterbatasan untuk menjangkau seluruh populasi maka peneliti perlu mendefinisikan populasi target dan populasi terjangkau baru kemudian menentukan jumlah sampel dan teknik sampling yang digunakan.

B. Ukuran Sampel
Untuk menentukan sampel dari populasi digunakan perhitungan maupun acuan tabel yang dikembangkan para ahli.  Secara umum, untuk penelitian korelasional jumlah sampel minimal untuk memperoleh hasil yang baik adalah 30, sedangkan dalam penelitian eksperimen jumlah sampel minimum 15 dari masing-masing kelompok dan untuk penelitian survey jumlah sampel minimum adalah 100.
Roscoe (1975) yang dikutip Uma Sekaran (2006) memberikan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel :
  1. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian
  2. Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat
  3. Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel sebaiknya 10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian
  4. Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eskperimen yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai dengan 20
Besaran atau ukuran sampel ini sampel sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian atau kesalahan yang diinginkan peneliti. Namun, dalam hal tingkat kesalahan, pada penelitian sosial maksimal tingkat kesalahannya adalah 5% (0,05). Makin besar tingkat kesalahan maka makin kecil jumlah sampel. Namun yang perlu diperhatikan adalah semakin besar jumlah sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil peluang kesalahan generalisasi dan sebaliknya, semakin kecil jumlah sampel (menjauhi jumlah populasi) maka semakin besar peluang kesalahan generalisasi.

Beberapa rumus untuk menentukan jumlah sampel antara lain :
1. Rumus Slovin (dalam Riduwan, 2005:65)
n = N/N(d)2 + 1
n = sampel; N = populasi; d = nilai presisi 95% atau sig. = 0,05.
Misalnya, jumlah populasi adalah 125, dan tingkat kesalahan yang dikehendaki adalah 5%, maka jumlah sampel yang digunakan adalah :
N = 125 / 125 (0,05)2 + 1 = 95,23, dibulatkan 95

2. Formula Jacob Cohen (dalam Suharsimi Arikunto, 2010:179)
N = L / F^2 + u + 1
Keterangan :
N = Ukuran sampel
F^2 = Effect Size
u = Banyaknya ubahan yang terkait dalam penelitian
L = Fungsi Power dari u, diperoleh dari tabel
Power (p) = 0.95 dan Effect size (f^2) = 0.1
Harga L tabel dengan t.s 1% power 0.95 dan u = 5 adalah 19.76
maka dengan formula tsb diperoleh ukuran sampel
N = 19.76 / 0.1 + 5 + 1 = 203,6, dibulatkan 203

3. Rumus berdasarkan Proporsi atau Tabel Isaac dan Michael
Tabel penentuan jumlah sampel dari Isaac dan Michael memberikan kemudahan penentuan jumlah sampel berdasarkan tingkat kesalahan 1%, 5% dan 10%. Dengan tabel ini, peneliti dapat secara langsung menentukan besaran sampel berdasarkan jumlah populasi dan tingkat kesalahan yang dikehendaki.

C. Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang secara umum terbagi dua yaitu probability sampling dan non probability sampling.
Dalam pengambilan sampel cara probabilitas besarnya peluang atau probabilitas elemen populasi untuk terpilih sebagai subjek diketahui. Sedangkan dalam pengambilan sampel dengan cara nonprobability besarnya peluang elemen untuk ditentukan sebagai sampel tidak diketahui. Menurut Sekaran (2006), desain pengambilan sampel dengan cara probabilitas jika representasi sampel adalah penting dalam rangka generalisasi lebih luas. Bila waktu atau faktor lainnya, dan masalah generalisasi tidak diperlukan, maka cara nonprobability biasanya yang digunakan.

1. Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel. Teknik ini meliputi simpel random sampling, sistematis sampling, proportioate stratified random sampling, disproportionate stratified random sampling, dan cluster sampling

Simple random sampling
Teknik adalah teknik yang paling sederhana (simple). Sampel diambil secara acak, tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi.
Misalnya :
Populasi adalah siswa SD Negeri XX Jakarta yang berjumlah 500 orang. Jumlah sampel ditentukan dengan Tabel Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan adalah sebesar 5% sehingga jumlah sampel ditentukan sebesar 205.
Jumlah sampel 205 ini selanjutnya diambil secara acak tanpa memperhatikan kelas, usia dan jenis kelamin.

Sampling Sistematis
Adalah teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi baik yang berdasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun nomor identitas tertentu, ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan sistematis lainnya.
Contohnya :
Akan diambil sampel dari populasi karyawan yang berjumlah 125. Karyawan ini diurutkan dari 1 – 125 berdasarkan absensi. Peneliti bisa menentukan sampel yang diambil berdasarkan nomor genap (2, 4, 6, dst) atau nomor ganjil (1, 2, 3, dst), atau bisa juga mengambil nomor kelipatan (2, 4, 8, 16, dst)

Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini hampir sama dengan simple random sampling namun penentuan sampelnya memperhatikan strata (tingkatan) yang ada dalam populasi.
Misalnya, populasi adalah karyawan PT. XYZ berjumlah 125. Dengan rumus Slovin (lihat contoh di atas) dan tingkat kesalahan 5% diperoleh besar sampel adalah 95. Populasi sendiri terbagi ke dalam tiga bagian (marketing, produksi dan penjualan) yang masing-masing berjumlah :
Marketing       : 15
Produksi         : 75
Penjualan       : 35

Maka jumlah sample yang diambil berdasarkan masing-masinng bagian tersebut ditentukan kembali dengan rumus n = (populasi kelas / jml populasi keseluruhan) x jumlah sampel yang ditentukan
Marketing       : 15 / 125 x 95            = 11,4 dibulatkan 11
Produksi         : 75 / 125 x 95            = 57
Penjualan       : 35 / 125 x 95            = 26.6 dibulatkan 27
Sehingga dari keseluruhan sample kelas tersebut adalah 11 + 57 + 27 = 95 sampel.
Teknik ini umumnya digunakan pada populasi yang diteliti adalah keterogen (tidak sejenis) yang dalam hal ini berbeda dalam hal bidangkerja sehingga besaran sampel pada masing-masing strata atau kelompok diambil secara proporsional untuk memperoleh

Disproportionate Stratified Random Sampling
Disproporsional stratified random sampling adalah teknik yang hampir mirip dengan proportionate stratified random sampling dalam hal heterogenitas populasi. Namun, ketidakproporsionalan penentuan sample didasarkan pada pertimbangan jika anggota populasi berstrata namun kurang proporsional pembagiannya.
Misalnya, populasi karyawan PT. XYZ berjumlah 1000 orang yang berstrata berdasarkan tingkat pendidikan SMP, SMA, DIII, S1 dan S2. Namun jumlahnya sangat tidak seimbang yaitu :
SMP    : 100 orang
SMA    : 700 orang
DIII     : 180 orang
S1        : 10 orang
S2        : 10 orang
Jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak seimbang (terlalu kecil dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga dua kelompok ini seluruhnya ditetapkan sebagai sampel
 
Cluster Sampling
Cluster sampling atau sampling area digunakan jika sumber data atau populasi sangat luas misalnya penduduk suatu propinsi, kabupaten, atau karyawan perusahaan yang tersebar di seluruh provinsi. Untuk menentukan mana yang dijadikan sampelnya, maka wilayah populasi terlebih dahulu ditetapkan secara random, dan menentukan jumlah sample yang digunakan pada masing-masing daerah tersebut dengan menggunakan teknik proporsional stratified random sampling mengingat jumlahnya yang bisa saja berbeda.

Contoh :
Peneliti ingin mengetahui tingkat efektivitas proses belajar mengajar di tingkat SMU. Populasi penelitian adalah siswa SMA seluruh Indonesia. Karena jumlahnya sangat banyak dan terbagi dalam berbagai provinsi, maka penentuan sampelnya dilakukan dalam tahapan sebagai berikut :

Tahap Pertama adalah menentukan sample daerah. Misalnya ditentukan secara acak 10 Provinsi yang akan dijadikan daerah sampel.
Tahap kedua. Mengambil sampel SMU di tingkat Provinsi secara acak yang selanjutnya disebut sampel provinsi. Karena provinsi terdiri dari Kabupaten/Kota, maka diambil secara acak SMU tingkat Kabupaten yang akan ditetapkan sebagai sampel (disebut Kabupaten Sampel), dan seterusnya, sampai tingkat kelurahan/Desa yang akan dijadikan sampel. Setelah digabungkan, maka keseluruhan SMU yang dijadikan sampel ini diharapkan akan menggambarkan keseluruhan populasi secara keseluruhan
.
2. Non Probabilty Sampel
Non Probability artinya setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan atau peluang yang sama sebagai sampel. Teknik-teknik yang termasuk ke dalam Non Probability ini antara lain : Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Insidential, Sampling Purposive, Sampling Jenuh, dan Snowball Sampling.

Sampling Kuota, Adalah teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota (jatah) yang diinginkan.
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang persepsi siswa terhadap kemampuan mengajar guru. Jumlah Sekolah adalah 10, maka sampel kuota dapat ditetapkan masing-masing 10 siswa per sekolah.


Sampling Insidential,
Insidential merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan, atau siapa saja yang kebetulan (insidential) bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel.

Misalnya penelitian tentang kepuasan pelanggan pada pelayanan Mall A. Sampel ditentukan berdasarkan ciri-ciri usia di atas 15 tahun dan baru pernah ke Mall A tersebut, maka siapa saja yang kebetulan bertemu di depan Mall A dengan peneliti (yang berusia di atas 15 tahun) akan dijadikan sampel.

Sampling Purposive,
Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan khusus sehingga layak dijadikan sampel. Misalnya, peneliti ingin meneliti permasalahan seputar daya tahan mesin tertentu. Maka sampel ditentukan adalah para teknisi atau ahli mesin yang mengetahui dengan jelas permasalahan ini. Atau penelitian tentang pola pembinaan olahraga renang. Maka sampel yang diambil adalah pelatih-pelatih renang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang ini. Teknik ini biasanya dilakukan pada penelitian kualitatif.

Sampling Jenuh,
Sampling jenuh adalah sampel yang mewakili jumlah populasi. Biasanya dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang dari 100. Saya sendiri lebih senang menyebutnya total sampling.
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang kinerja guru di SMA XXX Jakarta. Karena jumlah guru hanya 35, maka seluruh guru dijadikan sampel penelitian.

Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil kemudian terus membesar ibarat bola salju (seperti Multi Level Marketing….). Misalnya akan dilakukan penelitian tentang pola peredaran narkoba di wilayah A. Sampel mula-mula adalah 5 orang Napi, kemudian terus berkembang pada pihak-pihak lain sehingga sampel atau responden teruuus berkembang sampai ditemukannya informasi yang menyeluruh atas permasalahan yang diteliti.
Teknik ini juga lebih cocok untuk penelitian kualitatif.

C. Yang perlu diperhatikan dalam Penentuan Ukuran Sampel
Ada dua hal yang menjadi pertimbannga dalam menentukan ukuran sample. Pertama ketelitian (presisi) dan kedua adalah keyakinan (confidence).
Ketelitian mengacu pada seberapa dekat taksiran sampel dengan karakteristik populasi. Keyakinan adaah fungsi dari kisaran variabilitas dalam distribusi pengambilan sampel dari rata-rata sampel. Variabilitas ini disebut dengan standar error, disimbolkan dengan S-x
Semakin dekat kita menginginkan hasil sampel yang dapat mewakili karakteristik populasi, maka semakin tinggi ketelitian yang kita perlukan. Semakin tinggi ketelitian, maka semakin besar ukuran sampel yang diperlukan, terutama jika variabilitas dalam populasi tersebut besar.
Sedangkan keyakinan menunjukkan seberapa yakin bahwa taksiran kita benar-benar berlaku bagi populasi. Tingkat keyakinan dapat membentang dari 0 – 100%. Keyakinan 95% adalah tingkat lazim yang digunakan pada penelitian sosial / bisnis. Makna dari keyakinan 95% (alpha 0.05) ini adalah “setidaknya ada 95 dari 100, taksiran sampel akan mencerminkan populasi yang sebenarnya”.

D. KESIMPULAN :
Dari berbagai penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa teknik penentuan jumlah sampel maupun penentuan sampel sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari penelitian. Dengan kata lain, sampel yang diambil secara sembarangan tanpa memperhatikan aturan-aturan dan tujuan dari penelitian itu sendiri tidak akan berhasil memberikan gambaran menyeluruh dari populasi.

E. DAFTAR BACAAN
Arikunto Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
Arikunto Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktis, edisi revisi 2010. Jakarta : Rineka Cipta
Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula, Bandung : Alfabeta.
Uma Sekaran. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Jakarta : Salemba Empat.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Administasi. Bandung : Alvabeta.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Teori Agensi



TEORI PERAGENAN ATAU AGENCY THEORY


Teori peragenan atau agency theory mengarahkan dirinya pada analisis pengendalian manajemen terhadap berbagai bentuk hubungan kontraktual antara pemilik (principals) dengan perwakilan (agents) yang ditunjuk oleh principals untuk mewakilinya pada transaksi. Jensen dan Meckling (1976) melihat hal ini berkenaan dengan penyalahgunaan kebijakan yang sudah didelegasikan principals kepada agents, tetapi agents dengan kecurangan yang diperbuatnya merusak kepentingan principals.

Pada Agency Theory, kerugian yang dialami oleh principals dapat dicegah lewat pengendalian secara ketat terhadap agents, monitoring dan sanksi, atau lewat perikatan (bonding).

Agency Theory berkembang menjadi isu manajerial setelah adanya penyertaan isu tentang pengendalian hasil atau bentuk perilaku (behavioural terms). Manajer dipahami sebagai agen yang mengejar kepentingan pribadi terhadap kepentingan investasi pemilik atau pemegang saham perusahaan yang kemudian menciptakan sisa kerugian residual (residual-loss), dikarenakan kepentingan pribadi manajer (Jensen and Meckling, 1976).

Para pelaku usaha akan berupaya mengekang biaya yang tidak perlu (residual-loss) dengan mengawasi dan memberi sanksi terhadap para manajer melalui pemasangan sistem kontrol dan insentif. Hal yang terpenting dari sistem kontrol adalah kekuatan penuh dewan direktur yang terbentuk secara mandiri, terbentuk dari pihak-pihak luar yang mengawasi para eksekutif atas nama pemegang saham (Fama dan Jensen, 1983, dalam Donaldson, 1995). Sementara insentif atau dorongan yang dimaksud adalah rapat pimpinan pemegang saham yang berusaha meluruskan kepentingan pemilik terhadap manajer, dengan cara mengobligasikan atau membuat perikatan dalam menciptakan hubungan yang simetris. Ketika rencana-rencana efektif pengawasan dan pemberian sanksi atau juga pengobligasian tidak terjadi, manajer akan mencurangi para pemilik melalui gaji yang terlalu tinggi, keuntungan-keuntungan, penghasilan tambahan, dan waktu senggang pada jam kerja serta dengan cara yang paling licik adalah difersivikasi badan hukum atau menghindari resiko (Donaldson, 1995).

Merunut sedikit kepada latar belakang pengembangan teori ini, ia dikembangkan sesuai kebutuhan perusahaan modern. Adolf Berle dan Gardiner C. Means pada tahun 1932, mempublikasikan buku mereka dengan judul The Modern Corporation and Privarte Property. Dalam buku ini Berle dan Means memberi gambaran pemisahan dari pemilik dan pengendali sebagai tipikal perusahaan abad ke-20. Pada perusahaan besar menurut mereka dimiliki oleh banyak pemegang saham, jadi dengan demikian tidak seorang pemilikpun yang memiliki kekuatan untuk mengontrol tindakan para pegawai pada perusahaan.

Pegawai perusahaan pada umumnya memiliki saham pada perusahaan tetapi dalam jumlah yang kecil. Situasi ini menurut Berle dan Means akan memunculkan masalah sebagai berikut:
1. Sebagian besar keuntungan keluar dari para pemegang saham.
2. Semua keputusan penting diambil oleh pegawai perusahaan.
3. Pemilik saham di luar perusahaan tidak dapat mengontrol pegawai perusahaan.

Dalam situasi seperti ini Berle dan Means menyatakan bahwa kepentingan pegawai perusahaan dan pemegang saham akan berbeda secara luas. Pegawai perusahaan dan pemegang saham akan berbeda secara luas. Pegawai perusahaan mencari kekuasaan, prestise dan uang untuk diri mereka, sementara pemegang saham memiliki kepentingan hanya pada keuntungan. Para senior manajer dalam pandangan Berle dan Means, berada pada posisi memperkaya diri sendiri dan merupakan biaya bagi pemegang saham.



Kurva di atas menggambarkan tingkat optimal dari usaha agen dalam pandangan para prinsipal. Para prinsipal dapat mengamati perilaku para agen dengan informasi yang simetris karena konpensasi yang diberikan berbasis pada tingkat usaha para agen:
- Kurva l menunjukkan indiferensi dari agen.
- Garis horisontal menunjukkan usaha agen.
- Garis vertikal menunjukkan pendapatan agen.
- Garis m menunjukkan usaha tertinggi agen dengan harapan (ekspektasi) tertingginya.
- Garis n merupakan batas minimal usaha agen. Apabila usaha agen berada di bawah garis n maka agen akan membayar denda sebesar A, yang telah disepakati pada kontrak. Prinsipal dapat memilih struktur imbalan bagi agen berdasarkan usaha agen. Imbalan yang optimal adalah Ey0 – W0 = R0. Apabila agen berusaha berusaha atau bekerja dibawah garis n pada level C0 maka ia akan dikenai denda sebesar W0, sesuai kontrak yang telah disepakati.

Kritik Terhadap Teori Agency
Kritik terhadap teori peragenan dilakukan oleh Blau (1970, 1972), Stigler dan Friedland (1983), Robbins (1987), Perrow (1986), Donaldson (1985, 1990), Arrow (1985), Eisenhardt (1989), Anderson dan Tollison (1982), Kosnik dan Batenhansen (1988), Barney (1990), Jones (1987), Hill (1990), Chanon (1978), Berle dan Means (1932), Coase (1991).

Secara umum kritik terhadap teori ekonomi organisasi termasuk didalamnya teori agency ditujukan pada ideologi teori ini yang sangat materialistis. Donaldson (1995), mengatakan hal ini sebagai ideologi yang memuji setinggi langit lembaga kepemilikan swasta tanpa memperhatikan hak asasi manusia (human rights) dan hak cipta (property rights). Kesalahan umum yang dilakukan oleh positivis teori ekonomi organisasional adalah pendekatannya yang parsial dimana berbagai aspek dalam manajemen menjadi terabaikan.
Rasionalitas manajemen didalamnya ada rasionalitas manusia dalam bekerja, manusia tidak bekerja hanya dengan motif mencari keuntungan pribadi sebagai motif akhir, tetapi ada pertimbangan lain yaitu yang disebutkan oleh Weber (1968), Parsons (1968), dan Herzberg (1966), dalam Donaldson (1995), bahwa mereka harus melakukan pekerjaan dengan baik lewat beberapa klasifikasi motivasi individual yaitu keinginan melakukan pekerjaan dengan baik (compulsive behaviour), manusia seharusnya melakukan pekerjaan yang baik (normatively governed behaviour), dan manusia enjoy dengan pekerjaannya (intrinsic motivation). Hal yang sama juga dilihat oleh Parsons (1951), yang menemukan adanya sifat altruistis orientasi kolektif. Sementara Hersberg (1966), melalui teori X dan Y, menyatakan bahwa pada dasarnya termotivasi bekerja sepenuhnya dan baik.

Selanjutnya Donaldson (1995), merangkum pandangan-pandangan tersebut diatas dan menyatakan bahwa penolakan terhadap teori Y dan juga termasuk penolakan terhadap teori struktur kontingensi dengan strukturnya yang organis (dinamis) oleh penganut teori ekonomi keorganisasian via teori peragenan adalah tindakan yang tidak didasarkan oleh pandangan yang hati-hati dari teori dan fakta-fakta yang mendukung teori ini.

Perrow (1986), mengkritik adanya keuntungan yang diperoleh prinsipal dibanding agen, seharusnya hak prinsipal tidak terlalu berlebihan dibanding pelaksana kerja. Kritik Perrow sejalan dengan substansi kritik yang dilakukan oleh gerakan kiri baru (new left) yang consern terhadap eksploitasi para pekerja dalam sistem kapitalisme. Blau (1970, 1972) mengkritik bahwa temuan Williamson (1970) tentang pengendalian terhadap kecurangan (empire-building atau residual loss) yang dibuat oleh para manajer dalam organisasi bukanlah temuan empiris yang luar biasa pada teori organisasi. Blau 1970, 1972) melihat argumen seperti ini sudah dibangun secara empiris dalam penilitian pertumbuhan besaran (size) organisasi hirarki skala ekonomi secara administratif. Blau meihat hal ini sebagai distribusi pendapatan yang proporsional dari para manajer dan staf administrasi yang menurun ketika organisasi bertumbuh dalam besarannya. Jadi model rangkaian kontrak yang dikembangkan oleh Williamson sebagai upaya mencegah terjadinya empire-building bukanlah hal baru.

Kritik Blau ditegaskan pula oleh temuan Chandler (1962) dalam Donaldson (1995), terhadap analisis Williamson (1970) tentang adanya perubahan struktur dari struktur fungsional kepada struktur multidivisional (U-form ke M-form) sebagai hasil berkembangnya besaran (size) organisasi. Pendapat ini dapat diterima secara empiris hanya pada masa transisi sebelum struktur M-form terbentuk. Penciptaan strategi difersivikasi dalam struktur yang mengakibatkan adanya divisionalisasi, dan bukan dimaksudkan untuk mengarahkan para manajer yang tidak bertanggungjawab dalam proses operasionalisasi organisasi yang semakin kompleks atau karena makin beragamnya permintaan produk dan jasa di pasaran. Hipotesis turunan dari Chandler (1962) dalam Donaldson (1995) menunjukkan pula bahwa strategi akan menyebabkan adanya divisionalisasi, bukan besaran (size) yang menyebabkan adanya divisonalisasi.

Hal yang sama juga dikuatkan baik secara radikal maupun moderat oleh Chendal (1979), Donaldson (1982), Palmer (1987), Grinyer (1980), Fleigstein (1985), Khandawalla (1977), Grinyer dan Yasai-Ardekani (1981), dalam penilitian mereka. Perrow (1986), mengkritik pemahaman teori ini akan ide integrasi vertikal atau merger. Merger yang biasa dilakukan pada pemahaman teori ini terjadi karena pertimbangan dominasi pasar demi keuntungan pemilik semata bukan karena pertimbangan efisiensi bagi kepentingan publik. Kritik Perrow (1986) konsisten dengan kritik yang dilakukan gerakan kiri baru (new left), yang konsern terhadap eksploitasi kapitalisme terhadap pekerja. Perrow mengkritik terjadinya status-quo dalam perusahaan yang disebabkan oleh keuntungan yang berlebihan para pemilik ketimbang para manajer atau pekerja.

Dalam mengukur kontribusi teori peragenan terhadap organisasi yang berskopa luas dan kompleks yaitu perusahan multinasional. Kritik terhadap teori ini dilakukan oleh Bukley dan Casson (1983), Dunning (1980), Henard (1983), Teece (1985), Kreps (1984), Dore (1983), Stokey (1983), Doz dan Prahalad (1991), Hedlund (1981), Eisenhardt (1989). Indikator kontribusi teori agency diukur dalam beberapa elemen manajemen antara lain determinansi teori terhadap struktur, diferensiasi internal, optimalisasi pengambilan keputusan, pengelolaan informasi, akselerasi, penciptaan hubungan antar perusahaan, kontinuitas dan pembelajaran.
Doz dan Prahalad (1991), menyimpulkan bahwa teori peragenan dengan hubungam hirarkis antara principal dan agent serta implisit didalamnya sentralisasi di kantor pusat dengan rangkaian kontraknya, akan sulit untuk masuk kedalam persoalan-persoalan multikontingensi guna memanage perusahaan multinasional yang kompleks baik terhadap jaringan hubungannya, tugas-tugas, yang sulit diatur hanya oleh kontrak antara principal dan agent. Hal ini hanya merupakan simplifikasi teoritis yang tak bermanfaat terhadap riset dan pengembangan manajemen. Eisenhardt (1989), mempertanyakan isu pengendalian yang dilakukan pada teori peragenan sebagai isu manajemen dalam pengendalian terhadap hasil (out-come) atau perilaku (behaviour), dalam perusahaan multinasional. Misalnya pada model pengendalian hasil kemudian memberikan perspektif yang menarik dalam membahas tentang persoalan pengendalian anak perusahaan (subsidiaries), sebagai sebuah perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh perusahaan lain sebagai perusahaan induk, dimana mereka harus bertanggungjawab terhadap kantor pusat (headquarters).

Hal ini akan membawa konsekwensi manajemen organisasi dimana kantor pusat hanya memiliki sedikit informasi guna mengendalikan perilaku para manajer dengan cara yang mudah dan monitor terhadap tujuan (goals) dari induk perusahaan yang harus diterjemahkan oleh para manajer di anak perusahaan dalam memberikan kontribusinya sulit dilakukan oleh kantor pusat. Sebaliknya pengendalian yang menyeluruh bagi integrasi anak perusahaan yang biasanya terpencar diberbagai negara (global) sama kasusnya akan memunculkan masalah pada basis pengendalian perilaku, karena kantor pusat akan mengalami kesulitan menyuplai kebutuhan akan keahlian khusus (specialised) dari anak perusahaan yang memerlukannya, yang sifatnya independen.

Tabel kriteria relevansi pada aras makro bagi sebuah teori organisasi:


Kesimpulan: Teori Organisasi Ekonomi, Teori Peragenan (Agency Theory)

Merunut sedikit kepada latar belakang pengembangan teori ini, ia dikembangkan sesuai kebutuhan perusahaan modern. Adolf Berle dan Gardiner C. Means pada tahun 1932, mempublikasikan buku mereka dengan judul The Modern Corporation and Privarte Property. Dalam buku ini Berle dan Means memberi gambaran pemisahan dari pemilik dan pengendali sebagai tipikal perusahaan abad ke-20.

Pada perusahaan besar menurut mereka dimiliki oleh banyak pemegang saham, jadi dengan demikian tidak seorang pemilikpun yang memiliki kekuatan untuk mengontrol tindakan para pegawai pada perusahaan.
Teori Organisasi Ekonomi lewat kedua teorinya, Teori Biaya transaksi dan Teori Peragenan memberikan pemahaman tentang pentingnya pengawasan terhadap perilaku para manajer dalam organisasi, yang tidak dapat dipercaya dan penuh tipu daya untuk mengelabui para pemilik atau organisasi lain, yang mana telah terbina hubungan yang baik antara mereka dalam jangka waktu yang lama (Jensen dan Meckling, 1976, Williamson, 1985).

Pandangan ini tidak kelihatan secara akurat menggambarkan anggota organisasi yang dilibatkan dalam hubungan jangka panjang dengan pemilik dan partner organisasi. Organisasi ekonomi sepertinya mengendalikan keabsahan dalam daerah kekuasaan dari hubungan antar organisasi dan pelanggan tertentu dalam sebuah kasus. Dengan demikian organisasi ekonomi diaplikasikan dalam batasan hubungan dari organisasi dengan seseorang yang melakukan hubungan secara sementara misalnya customer.

Kontribusi teori ini bagi pengembangan teori organisasi adalah sebagai sebuah rangkaian kontrak antara para pelaku ekonomi yang saling berhubugan akan tetapi tidak memiliki ikatan sosial yang kuat guna mengatur perilaku. Situasi hubungan seperti ini menjadikan pandangan-pandangan dalam organisasi ekonomi menjadi relevan untuk diterapkan dengan konsep misalnya mengurangi resiko kerugian (adverse selection) dan tindakan curang (moral hazard) (Alchian dan Woodward, 1988, dalam Donaldson,1995) kesimpulan-kesimpulan ini merupakan karakter yang menonjol dalam Teori Peragenan (Agency Theory).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kupu kupu